Menu

Mode Gelap
3 Orang Tersangka Diamankan Polres Merangin Terkait Penembakan Salah Satu Warga Margo Tabir Merangin Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bungo Berganti Ini Motif Pelaku Bunuh Korban secara Sadis serta Kronologisnya yang Membuat Kepala Korban Dibuang Secara Terpisah Segerombolan Pemuda Kedapatan Membawa Sajam Diamankan Tim Patroli Polres Bungo Pembunuh Mayat tanpa Kepala Berhasil Diringkus Polisi, Pelaku sebut Kepala Korban dalam Kantong Kresek Juga Dibuang Ke Sungai

NASIONAL · 1 Jun 2024 05:39 WIB ·

Jangan Coreng Institusi Polri Oleh beberapa Oknum, Masyarakat Indonesia Berharap Usut Kasus Vina Sampai Tuntas Agar Masyarakat tak Ragukan Kinerja Polisi


 Jangan Coreng Institusi Polri Oleh beberapa Oknum, Masyarakat Indonesia Berharap Usut Kasus Vina Sampai Tuntas Agar Masyarakat tak Ragukan Kinerja Polisi Perbesar

JAWABARAT,BUNGOPOST.COM _ Dihubungi secara terpisah, pengamat Kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto mengatakan polisi harus membuktikan akuntabilitas penyelidikannya dalam kasus ini untuk menjawab berbagai klaim dan kejanggalan yang mengemuka.

Sebab klaim-klaim yang mengemuka itu, menurut Bambang, mengindikasikan pembuktian yang tidak cukup kuat terkait keterlibatan para terdakwa.

Dia mendesak Divisi Profesi dan Pengamanan serta Direktorat Kriminal Umum Polri menelusuri dan memeriksa kembali apakah penyidikan kasus ini pada 2016 lalu sudah berjalan sesuai prosedur.

Dua hal yang menurut Bambang penting untuk dibuka secara transparan.

Pertama, mengapa polisi belum juga menangkap tiga orang pelaku yang menjadi buronan selama delapan tahun terakhir. Padahal menurut Bambang, “itu semestinya bukan hal yang sulit dilakukan oleh polisi”.

Kegagalan polisi menangkap tiga buronan dalam waktu delapan tahun membuat muncul spekulasi di media sosial yang menuding bahwa satu buron adalah anak dari perwira polisi. Namun, tuduhan itu dibantah oleh Polda Jawa Barat.

Kedua, polisi harus mempertanggungjawabkan proses penyelidikan kasus ini untuk menanggapi dugaan “salah tangkap” yang diungkap oleh salah satu terdakwa baru-baru ini.

Hanya saja menurut Bambang, pembuktian polisi saat menangani kasus ini terlalu bertumpu pada pengakuan dan kesaksian para terdakwa, yang disebut bisa saja muncul akibat intimidasi.

“Kalau tidak [diusut] risikonya akan muncul lagi keraguan masyarakat terhadap kinerja kepolisian, jangan-jangan ada yang direkayasa atau ditutup-tutupi. Divisi Propam harus hadir untuk menyelidiki apakah ada pelanggaran SOP dalam penyelidikan delapan tahun lalu,” kata Bambang kepada BBC News Indonesia, Senin (20/05).

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat Komisaris Besar Jules Abraham Abast menegaskan, kepolisian akan bertindak transparan.

“Kalau terkait opini yang saat ini dibangun, kami minta seluruh warga masyarakat untuk menahan diri. Kami akan bekerja sebaik mungkin, secara transparan. Nanti ada waktunya akan kami sampaikan,” ujar Jules kepada wartawan di Bandung, Yulia Saputra, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

“Di dalam amar putusan ini sudah jelas sebagai DPO yang harus dicari. Jadi pertanyaannya siapa yang paling bertanggung jawab atas kematian Vina dan Eky kalau dua DPO itu dihilangkan?” kata Putri.

Sementara, sosok Pegi juga hadir dalam konferensi pers tersebut. Ia terlihat beberapa kali menggeleng-geleng kepala saat polisi menjelaskan perannya dalam kasus Vina.

Pegi Setiawan (tengah) dihadirkan pada konferensi pers yang digelar di Gedung Ditreskrimum Polda Jabar, Bandung, Jawa Barat, Minggu (26/5).

Di depan media dan kepolisian, ia membantah keterlibatannya dalam pembunuhan Vina dan Eky.

“Saya tidak pernah melakukan pembunuhan itu. Ini fitnah. Saya rela mati,” tegas Pegi, seperti dikutip Kompas.com.

Pegi melalui kuasa hukumnya, Sugianti Iriani, akan mengajukan gugatan praperadilan. Menurut Sugianti, penetapan Pegi sebagai tersangka tidak sesuai prosedur dan merupakan “salah tangkap”. Karena penyelidikan seharusnya dimulai dari awal, bukan mengikuti alur delapan tahun lalu.

Kasus pembunuhan Vina dan Eky yang terjadi di Cirebon, Jawa Barat, kembali mengemuka setelah sebuah rumah produksi Dee Company mengadaptasi kisahnya menjadi film horor yang kontroversial berjudul Vina: Sebelum 7 Hari.

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Prajurit Kodim 0416/Bute bersama Warga Timbolasi Gotong-royong Perbaiki Jembatan Gantung

7 Juni 2024 - 15:55 WIB

Banjir Landa Ngarai Sianok Bukittinggi

4 Juni 2024 - 06:38 WIB

Mall Praktek, Polres Prabumulih Tetapkan Bidan ZN Sebagai Tersangka

28 Mei 2024 - 16:20 WIB

Terkait Kasus Vina Cirebon, Mantan Kabareskrim Minta Publik Sabar dan Tak Berasumsi

21 Mei 2024 - 12:14 WIB

Ditpolairud Polda Bali Siagakan Dua Kapal dan Tiga Helikopter Amankan KTT WWF

18 Mei 2024 - 15:52 WIB

Kompolnas Puji Kapolri, Harap Casis Bintara Korban Begal Jadi Polisi Humanis

18 Mei 2024 - 15:49 WIB

Trending di NASIONAL